Langsung ke konten utama

ARTIKEL "PERMASALAHAN TATA TERTIB DI LINGUNGAN MA ALMAARIF SINGOSARI"

 PERMASALAHAN TATA TERTIB DI LINGUNGAN MA ALMAARIF SINGOSARI

Oleh : M. Abdul Hamid H. & Abdurrahman Hakim A.


    Penulisan artikel ini memiliki tujuan sebagaimana pada umumnya, yakni memberikan informasi terbaru kepada pembaca. Pada pembuatan kali ini bersumber dari makalah yang berjudul Tata Tertib Sekolah. Secara umum, adanya ketertiban terutama di lingkungan sekolah bertujuan agar seluruh civitas akademika mengetahui apa tugas, hak dan kewajiban yang harus dilakukan dalam menjalankan kehidupan di lingkungan sekolah. Kehidupan yang dimaksud adalah proses belajar mengajar beserta penataan administrasinya. 

Mengambil  Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang menjadi pusat kegiatan pendidikan untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi anak. Walau fungsi utamanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi sekolah juga memiliki peran dalam pembentukan karakter peserta didik. Dalam prosesnya, sekolah menetapkan tata tertib siswa yang diharapkan mampu membentuk siswa yang disiplin, taat aturan, serta menjunjung tinggi akhlak mulia. Sebagai seorang siswa yang telah melewati masa orientasi sekolah, sudah seharusnya bersedia untuk menaati peraturan yang berlaku di lembaga sekolahnya. Namun terlepas dari hal tersebut, di zaman milenial pandangan siswa terhadap aturan sekolah telah berubah. Penyebabnya adalah efek boomerang dari siswa ke pihak sekolah, pada awalnya terpantau siswa membangkang yang membuat masalah, menanggapi kasus itu sekolah memperketat peraturan untuk menekan perilaku negatif dari siswa, pada akhirnya siswa mendapat tekanan dan merasa peraturan yang ditetapkan terlalu berlebihan. 

    Banyak siswa yang datang ke sekolah, menaati peraturan hanya sekedar untuk menghindari ruang BK atau amarah dari guru serta orang tua mereka sehingga lupa apa makna dan tujuan sebenarnya dari penegakan disiplin tata tertib itu. Menurut Wiratomo dalam Rifa’i

(2016: 141) Tata tertib sekolah dibuat dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Agar siswa mengetahui tugas, hak dan kewajibannya.
  2. Agar siswa mengetahui hal-hal yang diperbolehkan dan kreativitas meningkat serta terhindar dari masalah-masalah yang dapat menyulitkan dirinya.
  3. Agar siswa mengetahui dan melaksanakan dengan baik seluruh kegiatan yang telah diprogramkan oleh sekolah baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler

Dari definisi yang mencerminkan tujuan positif dibentuknya peraturan sekolah diatas, terdapat pro dan kontra bagaimana jika peraturan sekolah itu diperketat dengan alasan untuk menekan kasus kenakalan siswa? 

Sebagian siswa yang berada dipihak pro berpendapat seperti ini: ya mungkin bisa diterapkan karena tujuannya membantu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi siswa, membantu mengontrol perilaku siswa di sekolah dan mengurangi tingkat pelanggaran, membantu siswa belajar mematuhi aturan dan disiplin, keterampilan yang sangat dibutuhkan di masa depan, membantu meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan membuat suasana yang lebih tenang dan terkendali di kelas. 

Namun tak jarang pula siswa yang dipihak kontra mengeluarkan argumennya: Memangnya peraturan seperti ini dibuat untuk apa? Tidak mengganggu pelajaran kan? Malah dampaknya bisa Beberapa siswa mungkin merasa terkekang oleh aturan-aturan yang ketat, beberapa tata tertib mungkin terasa tidak adil atau tidak rasional bagi beberapa siswa, terlalu banyak peraturan yang ketat mungkin mempersempit kreativitas siswa dan menurunkan motivasi untuk belajar. Benarkah demikian?

Banyak pihak yang mengira bahwa semakin ketat peraturan, maka semakin tertib pula pelaksananya. Memang benar demikian, namun dampak yang ditimbulkan tidak membuat peraturan ketat itu berguna bagi pembentukan karakter. Siswa menaati tata tertib hanya di lingkungan dimana peraturan itu berlaku, di luar dari lingkungan itu mereka akan mengeluarkan sikap asli mereka yang masih berada di umur akil balik. 

Contoh umum yang sering ditemui adalah siswa nakal yang kerap melanggar aturan berpakaian, sering terlambat ke sekolah, suka bermasalah dengan siswa lainnya. Tapi jarang sekali siswa yang terlihat baik dan lugu di sekolah, ketika pulang sekolah ia nongkrong di cafe, merokok, menonton film porno, mabukmabukan, melakukan tindak kriminal seperti mencuri atau balap-balapan belum ketahuan benarnya. Bahkan, siswa dengan predikat terbaik di sekolah, belum tentu memiliki karakter asli yang baik. Mungkin saja perilaku negatifnya tertutupi oleh ketaatan pada peraturan sekolah yang dibuat pura-pura hanya untuk membangun citra di depan warga sekolah.

Pada intinya, tujuan diperketatnya aturan itu tidak ada guna nya jikalau karakter siswa tidak turut dibentuk dengan baik. Secara logika, orang dengan moral baik akan selalu berbuat baik dimanapun ia berada walaupun di lingkungan itu tidak ada peraturan yang mengikat. Artinya akhlak mulia memang tertanam dalam dirinya, bukan sekedar ikut menaati demi terhindar dari sanksi. Maka demikian, pihak sekolah diharapkan bukan hanya memperbesar skala sanksi dari peraturan namun lebih mengedepankan program yang dapat memupuk pendidikan karakter pada siswa. 

Ketika program itu berhasil, siswa perlahan terbiasa dengan budaya sekolah bahkan bisa dibawa sampai ke lingkungan masyarakat. Pandangan ini didasari oleh Kurikulum merdeka resmi diluncurkan pada Februari 2022 oleh Mendikbud Nadiem Makarim. Kurikulum yang didasari oleh pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara tersebut memberikan pandangan bahwa mendidik adalah menuntun segala kodrat yang ada dalam diri anak sehingga mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Sehingga dalam konsep tersebut pembelajaran harus dibebaskan dari segala ancaman, hukuman, perundungan yang membuat anak merasa takut dalam proses belajarnya. 

Menurut William Glasser (seorang ahli psikiater Amerika) ketika seorang siswa menunjukkan perilaku tidak pantas, tugas seorang guru adalah membantu mereka untuk bisa memenuhi kebutuhan dengan cara yang bisa diterima. Berangkat dari hal tersebut, proses menyusun strategi pembentukan karakter sebaiknya dilakukan ketika siswa baru menginjakkan kaki di sekolah baru. Siswa baru ketika mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan sekolah diberikan pemahaman tentang budaya sekolah yang menanamkan nilai-nilai etika berperilaku. Hari hari berikutnya secara konsisten penanaman karakter baik ini terus dilakukan agar menjadi sebuah kebiasaan. Pada akhirnya pendidikan karakter telah tertanam utuh dalam diri siswa, dan akan dibawa terus sehingga bermanfaat bagi masa depannya. Kepada siswa yang tetap memilih untuk membangkang memang seharusnya diberikan sanksi agar mendapatkan efek jera, namun sanksi yang diberikan hendaknya berkenaan dengan perbaikan moralnya bukan fisiknya.

Siswa yang memang karakternya brandal tidak akan mengerti bahwa petugas keamanan siswa sedang menerapkan peraturan sekolah, bukan membuat-buat argumen agar terlihat galak. Tidak sedikit siswa yang sibuk mencari perhatian dengan cara membuat onar di sekolah, mereka menganggap tindakan itu adalah hal yang keren. Hal ini menandakan psikologi seseorang sedang terganggu, otaknya tidak mampu berfikir rasional di umur yang sudah menginjak dewasa. Argumen yang menormalisasi kenakalan remaja dengan alibi masa remaja adalah masa dimana anak muda sulit mengatur emosi, tapi kalau tidak dari sekarang dibina dengan baik kapan lagi siswa langganan BK tersebut belajar mengontrol diri?. 

Organisasi siswa yang bergerak di bidang keamanan dan ketertiban hanya menjalankan tugas sesuai arahan guru pembina dan berdasarkan peraturan yang berlaku, Sehingga tindakan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan. Disinilah pentingnya peran guru untuk ikut serta membangun karakter siswa yang baik. Banyak peranan yang diperlukan dari guru sebagai pendidik, atau siapa saja yang telah menerjunkan diri menjadi guru. 

Dengan demikian, dapat diambil kesimpulan bahwa peraturan ketat dengan sanksi keras bukan cara yang tepat untuk mendidik seorang anak. Melainkan strategi yang paling tepat untuk melahirkan generasi berkarakter adalah membentuk moral dan akhlaknya secara bertahap. Dasar perbaikan diri berasal dari kesadaran diri masing-masing, maka dari itu bagaimana langkah yang dapat diambil pihak sekolah guna membangun kesadaran siswa akan posisinya sebagai harapan bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL " ALVASKA "

Nama : Lailatul Hikmah Kelas XI IBB RESENSI NOVEL " ALVASKA " Judul Buku : Alvaska Penulis : Matcharay Penerbit : Coconut Books Depok, Jawa Barat Tahun : 2021 Jumlah halaman : 396 halaman Sukses menjadi penulis cerita di aplikasi Wattpad, kini Matcharay menerbitkan buku pertamanya "Alvaska" dengan genre fiksi yang diakses oleh 22 juta pembaca pada aplikasi. novel digital tersebut. Sebuah novel yang berhasil menarik pembaca terutama di kalangan remaja, membuat karya ini berhasil diterbitkan oleh penerbit Coconut Books yang dicetak pertama kali pada tahun 2021. Novel ini mengisahkan perjalanan cinta antara Alvaska dan Kana. Alvaska seorang laki-laki yang memiliki kelainan penyakit jantung sejak lahir berkeinginan untuk menyerah menjalani hidupnya karena sering menjadi perbandingan dengan sang adik. Alvaska juga sering kali menjadi sasaran dari kemarahan sang ayah tanpa alasan yang jelas. Namun ketika ia bertemu dengan seorang perempuan di tengah gelap dan derasnya huj...

RESENSI NOVEL " SANTRI PILIHAN BUNDA "

Nama : Nazilatul Mu'azah Kelas : XI IBB RESENSI NOVEL " SANTRI PILIHAN BUNDA " Judul Novel : Santri Pilihan Bunda Penulis : Salsyabila Falensia Jumlah halaman : 320 Halaman Ukuran buku : 14×20,5 cm Penerbit : Cloudsbooks Publishing Kategori :  Fiksi Tahun Terbit : 2021 Novel Santri Pilihan Bunda – Beberapa tahun belakangan Wattpad cukup mampu menghimpun banyak penulis berbakat dengan cerita-cerita menarik. Salah satunya adalah karya dari Salsyabila Falensia Agustia ini yang belum lama dirampungkan menjadi sebuah buku novel dengan judul Santri Pilihan Bunda. Pemilik akun wattpad dengan username @secretwriter ini mampu membawa novel karangannya ini menjadi best seller. Novel Santri Pilihan Bunda mengangkat percintaaan sebagai tema besarnya. Dengan dibalut nuansa Islami, penulis yang lebih akrab dipanggil Acha ini mampu menyuguhkan kisah cinta yang tak hanya penuh letupan-letupan emosi tapi juga sarat akan nilai-nilai kehidupan. Boleh jadi hal ini jugalah yang membuat cerita...

RESENSI NOVEL “SI ANAK PEMBERANI”

  Nama : Labibatun Nisa’ Kelas : XI IBB   RESENSI NOVEL “SI ANAK PEMBERANI” Identitas Buku  Judul Buku : Si Anak Pemberani                   Penulis        : Tere Liye Penerbit      : PT Sabak Grip Nusantara Tahun Terbit : 2023 Cetakan      : 6 Jumlah Halaman : 435 halaman ISBN : 978-623-96074-0-1      Novel Si Anak Pemberani bertemakan persahabatan dan kekeluargaan. Novel ini sangatlah seru jika mengikuti sampai akhir karena menghadirkan kisah kisah untuk membela keadilan. Novel yang ditulis oleh   Tere Liye, adalah nama pena yang digunakan oleh penulis bernama asli Darwis yang lahir di Kota Lahat, Sumatera Selatan, pada tanggal 21 Mei 1979. Ia memutuskan untuk menggunakan nama tersebut karena terinspirasi dari lagu India. Dari puluhan buku Tere Liye, serial ini adalah mahkotanya.           ...