Langsung ke konten utama

RUMAH

 Rumah

Karya : M. Abdul Hamid H. (XI IBB)


     Apakah kalian punya rumah untuk pulang? Tentu saja punya. Semua orang pasti mempunyai rumah untuk beristirahat setelah melakukan aktivitas.

    Umumnya, rumah adalah sebuah bangunan yang kita tempati(tinggal). Semua makhluk hidup pasti memiliki tempat tinggal entah itu manusia, hewan, maupun tumbuhan. Tapi yang akan ku ceritakan bukan tentang sebuah bangunan.

    Apakah kalian punya rumah? Apakah kalian punya tempat kembali? Apakah kalian punya tempat bercerita tentang hari ini? Apakah kalian punya tempat mengadu tentang masalah - masalah kalian?. Gak selamanya rumah berbentuk bangunan, bisa jadi berbentuk manusia yang menerima kamu pulang dalam keadaan apapun. Rumah yang ku maksud ialah tempat untuk kita kembali, mengadu, mengeluh, hingga bercerita tentang semua hal yang kita alami sekarang, besok, dan seterusnya. 

    Semua orang pasti memiliki rumah masing - masing, begitupun aku. Rumahku ada tiga. Haa, kok banyak sihh?. Ya, memang banyak. Apa saja? Rumahku terdiri atas keluarga, kelas(teman - teman), dan pasangan. 

    Pertama, keluarga. Keluarga adalah sekelompok orang yang terikat dengan hubungan darah, ikatan kelahiran, hubungan khusus, pernikahan, atau yang lainnya. Keluarga adalah tempat kita pertama kali untuk melakukan hal tersebut. Memang benar, semua keluargaku perhatian. Tapi Sang Pertiwi lah yang lebih mendominasi. Sejak Sang Pertiwi telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, keluargaku mulai berantakan. Bukan berarti berantakan cerai-berai(berserak-serak). Tetapi mereka terlalu mementingkan dirinya sendiri. Jikalau aku mempunyai masalah, aku memilih terdiam serta memendam teka - teki kehidupan ini. Agaknya teka - teki ini semakin subur dalam pemikiranku.

    Sejak Sang Pertiwi menutup mata, seisi rumah terasa canggung. Dulu, Sang Pertiwi lah yang sering ku jadikan lahan untuk mendongeng. Sering ku adukan keluh kesahku pada Sang Pertiwi. Sekarang hanya tersisa kenangan dan bayangan. Aku hanya bisa berdo’a, selebihnya ku serahkan pada Sang Pencipta. Beruntung anak seumuranku di luar sana yang masih mendapat kasih sayang dari Sang Pertiwi. Mereka masih memiliki rumah untuk bercerita tentang apa yang ia alami hari itu. Iri rasanya melihat mereka yang masih bersenda gurau. Apakah menurutmu ini adil?. 

    Masa demi masa, akhirnya keluargaku mulai tersadar atas perlakuannya kepadaku. Dari kesadaran tersebut mulai kudapati sedikit kasih sayang. Dalam hatiku berkata “Kasih sayangku belum tercukupi. Sedangkan orang yang memberiku kasih sayang terbesar sudah berputih tulang” aku pun mencoba tegar dengan semua itu.

    Terkadang jika mendapat buah simalakama, ku coba memendam dan tak ingin menarasikannya sampai - sampai buah tersebut tertelan oleh perut bumi. Begitu hampa rasanya Sang Pertiwi berputih tulang. Pernah pada suatu hari aku mengingatnya. Di waktu itu juga aku menangis sederas - derasnya. Wajar, anak seumuranku menangis karena ditinggal pergi oleh orang yang disayang. “Mengapa kau menangis? seperti bukan dirimu yang ku kenal” ujar temanku. Kadang aku melupakan kejadian seperti itu dengan melatih seni sekaligus menghibur diri. Sungguh beruntung kalian yang masih memiliki ibu. Mungkin di dalam hati kalian tidak ada ibu, tapi di dalam hati ibu ada kalian.

    Kedua, kelas. Kelas adalah tempat ternyamanku untuk melupakan sejenak rasa lelah walaupun aku malas untuk pergi ke sekolah. Ketika bangun kesiangan ataupun sedang sakit (tidak parah), ku usahakan untuk masuk sekolah. Bagaimana pun caranya aku harus belajar dan berkumpul bersama dengan teman -  temanku. Setibanya di sekolah rasa malas atau sakit itupun  hilang dengan sendirinya dan sebaliknya. Alasan mengapa kelas ku jadikan sebagai rumah kedua, karena masih ada teman sesama jenis untuk tempat bercerita. Mereka juga memberiku solusi. Terkadang mereka juga menceritakan masalahnya kepadaku. 

    Inilah salah satu alasanku menjadikan kelas(teman - teman) sebagai rumah kedua. Rasa kebersamaan yang tak pernah ku rasakan, rasa peduli yang tak pernah ku dapatkan. Merekalah yang selalu mendukungku ketika aku jatuh. Merekalah yang menyemangatiku ketika aku rapuh. Apapun masalahnya, apapun rintangannya, apapun resikonya kita hadapi bersama. 

    Terakhir, pasangan. Antara penting atau tidak. Menurutku, pasangan adalah pengganti sosok Sang Pertiwi. Terkadang pasangan juga bisa dijadikan sebagai tempat bernarasi. Serumit apapun teka - tekimu, ia pasti mencarikan solusi yang terbaik. Seperti hal nya Sang Pertiwi, ia menasehati sekaligus mencari jalan keluar dari teka - teki kehidupan.

  Bagaikan perahu kecil yang terombang - ambing di tengah lautan, begitulah aku hidup walau dengan penuh ketakutan aku harus tetap mengendalikan agar tidak keram.  Aku tak peduli seberapa hancurnya diriku hari ini. Yang terpenting besok pagi aku bisa baik - baik saja. Untuk semua yang meredup segeralah menyala kembali. Rindu akan menjadi alasan untuk kita pulang. Walaupun mereka tampak buruk dimatamu, aku yakin Tuhan mendatangkan mereka dengan alasan yang baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL " ALVASKA "

Nama : Lailatul Hikmah Kelas XI IBB RESENSI NOVEL " ALVASKA " Judul Buku : Alvaska Penulis : Matcharay Penerbit : Coconut Books Depok, Jawa Barat Tahun : 2021 Jumlah halaman : 396 halaman Sukses menjadi penulis cerita di aplikasi Wattpad, kini Matcharay menerbitkan buku pertamanya "Alvaska" dengan genre fiksi yang diakses oleh 22 juta pembaca pada aplikasi. novel digital tersebut. Sebuah novel yang berhasil menarik pembaca terutama di kalangan remaja, membuat karya ini berhasil diterbitkan oleh penerbit Coconut Books yang dicetak pertama kali pada tahun 2021. Novel ini mengisahkan perjalanan cinta antara Alvaska dan Kana. Alvaska seorang laki-laki yang memiliki kelainan penyakit jantung sejak lahir berkeinginan untuk menyerah menjalani hidupnya karena sering menjadi perbandingan dengan sang adik. Alvaska juga sering kali menjadi sasaran dari kemarahan sang ayah tanpa alasan yang jelas. Namun ketika ia bertemu dengan seorang perempuan di tengah gelap dan derasnya huj...

RESENSI NOVEL " SANTRI PILIHAN BUNDA "

Nama : Nazilatul Mu'azah Kelas : XI IBB RESENSI NOVEL " SANTRI PILIHAN BUNDA " Judul Novel : Santri Pilihan Bunda Penulis : Salsyabila Falensia Jumlah halaman : 320 Halaman Ukuran buku : 14×20,5 cm Penerbit : Cloudsbooks Publishing Kategori :  Fiksi Tahun Terbit : 2021 Novel Santri Pilihan Bunda – Beberapa tahun belakangan Wattpad cukup mampu menghimpun banyak penulis berbakat dengan cerita-cerita menarik. Salah satunya adalah karya dari Salsyabila Falensia Agustia ini yang belum lama dirampungkan menjadi sebuah buku novel dengan judul Santri Pilihan Bunda. Pemilik akun wattpad dengan username @secretwriter ini mampu membawa novel karangannya ini menjadi best seller. Novel Santri Pilihan Bunda mengangkat percintaaan sebagai tema besarnya. Dengan dibalut nuansa Islami, penulis yang lebih akrab dipanggil Acha ini mampu menyuguhkan kisah cinta yang tak hanya penuh letupan-letupan emosi tapi juga sarat akan nilai-nilai kehidupan. Boleh jadi hal ini jugalah yang membuat cerita...

RESENSI NOVEL “SI ANAK PEMBERANI”

  Nama : Labibatun Nisa’ Kelas : XI IBB   RESENSI NOVEL “SI ANAK PEMBERANI” Identitas Buku  Judul Buku : Si Anak Pemberani                   Penulis        : Tere Liye Penerbit      : PT Sabak Grip Nusantara Tahun Terbit : 2023 Cetakan      : 6 Jumlah Halaman : 435 halaman ISBN : 978-623-96074-0-1      Novel Si Anak Pemberani bertemakan persahabatan dan kekeluargaan. Novel ini sangatlah seru jika mengikuti sampai akhir karena menghadirkan kisah kisah untuk membela keadilan. Novel yang ditulis oleh   Tere Liye, adalah nama pena yang digunakan oleh penulis bernama asli Darwis yang lahir di Kota Lahat, Sumatera Selatan, pada tanggal 21 Mei 1979. Ia memutuskan untuk menggunakan nama tersebut karena terinspirasi dari lagu India. Dari puluhan buku Tere Liye, serial ini adalah mahkotanya.           ...