LANGIT
KELUARGA
Karya : Zulfa
Nafisatul Izzah
Di
tengah desa yang cukup luas, ada keluarga kecil yang bernama keluarga Sarwadji.
Ayah, seorang yang sangat pekerja keras dan punya semangat yang tinggi, Ibu,
seorang ibu rumah tangga yang hangat dan penyayang, dan dua anak mereka, Apan
dan Apis.
Hari-hari
mereka diisi dengan tawa, cerita, dan cinta di rumah sederhana mereka yang
isinya tertata dengan rapih. Pada suatu pagi, Apan berkata, "Ayo kita buat
perahu kertas bersama, Ayah!". Bersama-sama, mereka membuat perahu kertas
yang indah dan bisa memenuhi kolam kecil dan sederhana yang ada di halaman
rumah mereka yang dibuat oleh Pak Sarwadji. Perahu itu menjadi simbol
kebersamaan keluarga Sarwadji.
Ketika
tantangan datang, Ayah mengajarkan Apan dan Apis tentang kekuatan ketahanan dan
kerjasama. Mereka belajar bahwa seperti perahu yang berlayar jauh di laut lepas
itu menjadi simbol kesabaran yang luas, keluarga mereka bisa menghadapi apapun
selama bersama.Setiap malam, keluarga ini berkumpul untuk makan malam, saling
bertukar cerita tentang hari mereka. Ibu menyadarkan mereka tentang pentingnya
saling mendengarkan dan menghargai satu sama lain.
Apan
tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan kreatif, mengikuti jejak Ayahnya. Apis,
dengan kelembutan dan kecerdasannya, menjadi sumber inspirasi bagi
teman-temannya.Suatu hari, Ayah jatuh sakit, dan keluarga Sarwadji diuji.
Namun, mereka tetap bersama, melewati badai yang datang. Ayah sembuh dengan
dukungan dan cinta dari keluarganya.
Apan
dan Apis selalu menjadi anak yang berprestasi dilingkup pendidikan mereka
masing-masing ,karena mereka mendapat dukungan baik dari Ayah dan Ibu mereka,
bukan hanya dari keluarganya merek berdua mendapat dukungan baik dari
orang-orang disekitar mereka.Tepat pada saat Apis mengikuti lomba yang diadakan
oleh Universitas ternama,dia merasa sangat takut dan sedikit tidak percaya
diri,tapi dia dikuatkan oleh keluarga kecilnya yang penuh keharmonisan dan
hangat itu.
“Suatu hari ayah pernah
berkata kepadaku,nak..jangan pernah kamu mundur dari langkah baikmu itu jika
tidak ada yang kamu rugikan, jangan sesekali kamu merugikan orang lain untuk
kebutuhanmu sendiri”. Kata Apis pada kakaknya Apan.
Banyak
sekali nasihat-nasihat yang dikatakan Pak Sarwadji dan istrinya pada kedua anaknya
karena mereka berharap anak-anaknya tumbuh besar menjadi orang yang berbakti
kepada orang tua, menjadi anak yang tau sopan santun,punya akhlak baik dan
menjadi orang sukses yang tidak sombong tentunya.
Saat
Apan menginjak usia 24 tahun dia memutuskan untuk merantau ke kota besar yang
bisa dibilang cukup jauh dari desa mereka. Tapi itu tidak menjadi alasan Apan
untuk melanjutkan mencari pekerjaan disana. Saat ia hendak pergi meninggalkan
desa yang banyak kenangannya bersama keluarga Pak Sawadji hanya bisa memberikan
ia bekal “Nak jaga dirimu di kota orang, jangan mengotori kota orang dengan
ulahmu” dan sang Ibu menambah “Jangan lupa kembali ke rumah dimana kamu berasal
ya nak”.
Apis
kini menjadi seorang perempuan yang tangguh dan gigih, buakan hanya Apa yang
mengikuti jejak Ayahnya tetapi begitu juga dengan Apis. Apis membuat keputusan
bulat untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi di kota yang tidak teramat
jauh dari desanya. Disamping dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah yang
lebih tinggi Apis juga membantu Ibunya menjual kue-kue kering yang banyak
penarik perhatian konsumen.
Tumbuhlah
mereka menjadi orang yang sukses dan bisa membantu banyak orang,tanpa melupakan
nasihat dari Ayah dan Ibu mereka. Banyak orang yang bangga terhadap mereka yang
tumbuh mulai kecil dengan sederhana ternyata bisa menjadi orang berhasil dan
tidak lupa pada orang disekitarnya.
Tidak
sia-sia Pak Sarwadji mendidik anak-anaknya sedari kecil hingga saat dimana mereka
bisa berguna untuk banyak orang. Pak Sarwadji dan Istrinya sangat bangga kepada
keluarganya sendiri,terlebih pada kedua anaknya yang kini sudah tumbuh besar. Apan
dan Apis kini menjadi anak yang berhasil membahagiakan kedua orang tuanya.
Kini
Pak Sarwadji dan Istrinya sudah menjadi orang tua yang mempunyai rambut
putih,sudah saatnya mereka duduk dirumah istirahat dan kini sudah menjadi tanggung
jawab kedua anaknya. Sekarang mereka hanya bisa memberi beberapa nasihat kepada
anak-anaknya supaya mereka tetap dijalan yang baik.
Banyak
cerita yang didapat mereka berdua dan mengajarkan tentang kekuatan keluarga,
bagaimana setiap anggota berkontribusi pada keseimbangan dan keharmonisan.
Dalam langit keluarga mereka, setiap warna mewakili cinta, kepercayaan,
dukungan, dan keterhubungan yang membuat keluarga Sarwadji tetap bersinar.
Komentar
Posting Komentar