KEHILANGAN ORANG TERSAYANG
Karya : Lailatul Hikmah
Tanggal 17 July 2021, aku kehilangan figur seorang ayah. Kami tak lagi memiliki pondasi yang kuat sebagai sebuah keluarga tanpa adanya seorang Ayah. Tulang punggung keluarga kami. Yang tidak kalah menyayangi kami dari ibu. Pria tampan yang sangat kami kagumi,dengan ketegasannya membimbing kami sehingga bisa menjadi tumbuh besar, berpendidikan, dan bernafkah. Ayahku yang sangat ku sayangi. Pria teguh yang sangat kuat, yang sangat menyayangi dan mengutamakan keluarganya.
Hari itu, kuingat saat kudengar berita buruk dari suara tangisan tante ku di siang hari yang kelabu. Aku terpaku, melihat tubuh kaku ayahku. Aku tak tahu responku bagaimana. Hatiku cemas dan sakit,namun tak setetes pun air mata jatuh di pipi. Saat aku berjalan ke rumah tempat isolasi, aku melihat wajah ibuku yang sangat kosong, dan guratan sedih terlihat jelas di wajahnya, aku menahan tangis. Adikku sudah menangis memanggil ayahku untuk bangun. Hatiku sangat sakit. Meskipun sering terpikir olehku bahwa semua orang pasti meninggal, tapi ternyata sangat sulit bagiku untuk merelakan kepergian ayahku. Aku menangis.
Tetanggaku berbondong-bondong datang ke rumah untuk berbela sungkawa. Kami menunggu tubuh ayahku di mandikan. Karena pada saat itu ayahku meninggal karena virus corona. Sudah 1 bulan kami satu keluarga terkena virus corona. Sempat terpikir olehku rasa syukur, karena ayahku tidak menderita lagi. Pikiran positif seperti itu kupikir bisa mengurangi rasa sedihku. Namun, di satu sisi aku merasa kehilangan orang tersayang,sosok ayah, dan itu membuatku sangat sedih.
Ketika wajah ayahku di buka, aku tidak sanggup melihat. Ku palingkan wajahku dari tubuh tak bernyawa ayahku. Ku mendengar isak tangis bibi ku. Dan merekalah yang melihat saat-saat terkahir ayahku. Setelah dimandikan mayat ayahku, tubuhnya sudah terlilit kain kafan. Ibuku menyuruhku membacakan surah Ya-Sin. Dan aku tak kuat menahan tangis ketika membacakannya.
Saat itu ibuku baru menangis. Pilu terasa di dadaku. Ibuku mungkin yang merasa paling kehilangan. Belasan tahun mereka bersama,dan kini hanya tinggal ibuku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku kehilangan seseorang yang ku sayang. Kemudian aku dibawah bibi ku kerumahnya, dan sepanjang jalan aku menangis. Para tentanggaku mengucapkan bela sungkawa, aku hanya diam terpaku sambil meneteskan air mata.
Saat dirumah bibi ku pecah sudah tangis ku bersama sepupu-sepuku, terngiang-ngiang dikepalaku momen ketika aku bersama ayahku. Kenangan indah,sedih berulang-ulang berputar di kepalaku. Ingin rasanya berjumpa lagi dengan ayahku. Aku rindu. Aku sedih. Hatiku sakit. Seakan-akan masih tidak percaya pada kenyataan ayahku telah meninggal. Jika aku bisa menyampaikan beberapa hal pada ayah,aku akan mengutarakan rasa sayangku padanya, sesalku karena belum bisa membuatnya bangga, rasa sedih karena pernah menyakiti hatinya, dan rasa terima kasih karena telah menyayangiku, merawatku, membesarkanku bersama ibu hingga aku besar. Ayah, terima kasih untuk segalanya. Aku menyayangimu Ayah.
Tidak sampai disitu saja penderitaan ku, esok hari aku juga kehilangan sosok ibuku. Ternyata ibuku tidak bisa hidup tanpa ayahku.
Disaat malam hari aku berlari ke sana kemari untuk mencari tabung oksigen, ibuku tidak bisa bernafas tanpa alat bantuan.
Di samping ku saat itu hanya ada kakak sepupuku Ina dan Daim, kami berbondong bondong mencari isi ulang tabung oksigen. Tetapi tabung oksigen sangat sulit di dapatkan, pada akhirnya aku memposting di sosmed " apa ada isi ulang tabung oksigen? ". Akhirnya teman ibuku menemukan tabung oksigen, dia teman baik ibuku Nia namanya.
Meskipun tabung oksigen berukuran kecil, aku sangat berterima kasih kepada tante nia yang rela menolong kami. Setelah dipasang aku merasa lega, akhirnya ibuku bisa bernafas teratur.
Tidak sampai disitu penderitaan ku, ternyata ibuku menghembuskan nafas terkhirnya saat di periksa oleh dokter Tiwi tetanggaku. Aku menangis meraung-raung, hatiku sangat sakit, aku kecewa mengapa ibuku tidak tertolong.
Ketika ibuku dipindahkan ke ruang tamu, aku melihat tubuh ibuku terbujur kaku tertutup kain batik.
Kemudian aku dibawah kerumah tetanggaku di depan ibu Tin namanya, dia mencoba menenangkan ku, memeluk ku, membiarkan tangis ku pecah di hadapannya. Ketika tangisan ku sudah mereda, aku menghubungi seluruh keluarga ibuku di grup keluarga bahwa ibuku telah tiada.
Kemudian aku menelfon kakak sepupuku Putri namannya.
" Kak ibu sudah meninggal ". ucapku di telfon
" Apa iya, kamu tidak berbohong kan ". ucap Kak Putri
" Iya aku serius ". ucapku
Selesai menelfon aku mendengar tangisan para sepupuku di rumah.
Hingga tengah malam tetanggaku berbondong-bondong datang ke rumah untuk menulis nama di batu nisan milik ibuku. Aku akhirnya tertidur jam 2 dini hari, dengan perasaan sakit kehilangan dua orang yang ku sayang.
Di pagi harinya mayat ibuku di mandikan dan di kafani sesuai protokol kesehatan. Kemudian ambulans datang untuk membawa ibuku ke pemakaman, peti ibuku di angkat dan di masukan ke dalam ambulans.
Ayah...Ibu....
Terima kasih, semasa ayah dan ibu hidup sudah membuat aku dan adik bahagia, membuat aku tersenyum dan tertawa, terima kasih untuk waktunya. Terima kasih untuk segalanya,aku tidak akan pernah melupakan kenanganku bersama ayah dan ibu. Aku sangat sayang, dan akan selalu sayang kepada kalian untuk selamanya.

Komentar
Posting Komentar