Home Far Away
Karya
: Elvina Najwa Paramitha
Suatu
hari di sebuah desa, hiduplah dua anak kecil yang saling menyayangi. Mereka sedang
bermain di taman, dekat dengan rumah mereka berdua. Seorang gadis kecil tampak
serius sekali mengukir sesuatu di sebuah pohon yang ada di taman itu.
“lihat zhee.. aku mengukir nama kita berdua di pohon ini!” ucap gadis
kecil bermata bulat dengan rambutnya yang dikuncir dua itu bernama Yuna.
“bagus sekali yuun..! ini akan menjadi pohon favorit kita dan tidak ada
yang boleh mendekatinya kecuali kita.. hahaha..!” ucap anak laki laki berambut
pirang dengan penuh semangat, ia bernama Zhenya.
“hei Zhenya, kamu tidak boleh egois. Semua orang juga boleh mendekati
pohon ini.. tapi, tetap saja tidak boleh merusak nama kita yang diukir di sini
hehee..” ucap Yuna dengan senyumnya yang manis.
“huuuhh iya deehh terserah kamu yuun.. eh udah sore nih, besok mau main
lagi ngga yun?” tanya Zhenya kepada Yuna.
“iya doong.. kalo gitu.. ayo kita balapan siapa dulu yang nyampe rumah
hahaha..!!” ucap Yuna sambil berlari kearah rumahnya.
“yuunnaaa!! Kamu curaaaanggg…!!” teriak Zhenya sambil berlari menyusul Yuna.
Mereka berlari dan tertawa bersama seperti tidak tahu apa yang akan
terjadi di esok hari. Hari esok yang tidak akan pernah di lupakan oleh Yuna.
dan juga Zhenya..
Keesokan harinya, Yuna sangat bersemangat sekali untuk segera menemui
Zhenya dan bermain bersama. Yuna sudah melangkahkan kakinya menuju ke rumah
Zhenya untuk bermain dengannya. Dan di saat itulah ia bertemu dengan Zhenya
yang berwajah murung.
“zhee..! Ayo main..!! ayoo maainn, ayoo maainn..!” ucap Yuna penuh
semangat sambil memutari anak yang lebih pendek itu.
“maaf yuna.. mungkin Zhenya ngga bisa main lagi sama Yuna..” ucap Zhenya
murung.
“eh!? K-kenapa? Yuna ada buat salah ke Zhenya?” tanya Yuna dengan panik
kepada Zhenya.
“ngga ada yun.. Yuna selama ini udah baik mau main sama Zhenya kok,
Zhenya juga seneng main sama Yuna” ucap Zhenya.
“terus kenapa kita ngga bisa main lagi??” tanya Yuna dengan heran.
“Zhenya mau pindah ke kota yun..” ucap Zhenya dengan mata yang sudah
membendung air matanya agar tidak keluar membasahi pipinya.
“zhee.. ZHENYAA!! HUWAAA!!” tangis Yuna menggelegar di halaman rumah
Zhenya. Mereka berdua berpelukan dengan erat.
“hiks.. bukannya zhee udah janji bakal main terus sama Yuna? Kenapa hiks..
kenapa zhee mau ninggalin Yunaa?” tanya Yuna sambil menangis di pundak Zhenya.
“maafin Zhenya.. tapi Zhenya ada sesuatu buat Yuna dan syaratnya Yuna
berhenti dulu nangisnya” ucap Zhenya.
“apa itu? Hiks..” tanya Yuna sesegukan karena menahan tangisnya.
Zhenya mengeluarkan gelang dan memasangkannya ke pergelangan tangan kanan
Yuna. Gelang itu memiliki ukiran gambar dua anak kecil yang menandakan itu adalah
mereka berdua.
“gelang ini harus tetep ada di Yuna, ini menandakan kalo kita masih
bersahabat sampai kapan pun itu. Jadi Yuna jangan sedih lagi, tinggal liat
gelang itu kalo Yuna kangen sama zhee” ucap Zhenya.
“janji ya hiks.. buat ngga ngelupain Yuna” ucap Yuna sambil menyodorkan
jari kelingkingnya kepada Zhenya. Zhenya pun membalas jari kelingking itu dan
berkata “janji..” mereka berdua tersenyum. Menyimpan sebuah janji persahabatan
itu.
Zhenya menaiki mobilnya dan meninggalkan desa tersebut, ia melihat Yuna
yang berdiri dengan senyuman di wajahnya percaya bahwa Zhenya akan menepati
janjinya. Zhenya yang melihat Yuna juga tersenyum dan mengucapkan sesuatu di
dalam hatinya.
Beberapa tahun
terlewati, kini Yuna tumbuh menjadi gadis yang cantik dan sudah memasuki
sekolah menengah atas di kota. Ia merantau ke kota karena mendapat beasiswa
dari SMA elit. Yuna rela meninggalkan kedua orang tuanya untuk belajar di sana.
Agar satu hari nanti, ia akan kembali ke desa dengan diambut oleh orang tuanya
yang mengatakan
“lihat anak kami, ia sudah sukses dan akan menghidupi ekonomi di keluarga
ini”
aaaahh.. sungguh khayalan yang manis.
Dengan berbekal ilmu, Yuna memasuki sekolah tersebut dengan takjub.
Gedung-gedung di sekolah itu besar, tidak seperti yang ada di desa. Ia memasuki
kelas dengan semangat berharap ia akan mendapat teman yang banyak.
Saat Yuna membuka pintu kelasnya betapa terkejutnya Yuna karena ia
berpapasan dengan pemuda tampan. Ia berambut pirang, bermata biru, dan berbadan
tegak. Ia seketika mengingat sahabat masa kecilnya itu, tunggu.. siapa namanya?
Zhe.. Zhenya!
“ZHENYA!?” teriak Yuna yang mengejutkan seisi kelas. Semua orang kini menatap ke arah Zhenya dan Yuna, mereka saling berbisik dengan mengatakan
“siapa itu yang berteriak?”
“bukannya dia anak beasiswa itu?”
“haha.. berani sekali dia datang ke sekolah elit ini”
"huhuu.. kalo aku si malu ya liat penampilannya yang kolot itu”
“apa dia berteman dengan Zhenya?”
“tidak mungkin Zhenya mempunyai teman dari kalangan bawah, hahaha”
Seisi kelas penuh dengan bisikan yang sangat jahat, Yuna tidak peduli
dengan bisikan itu. Ia lebih tertarik menyapa sahabat masa kecilnya itu.
“Zhenya?? Kamu beneran Zhenya kaan!!“ ucap Yuna dengan penuh semangat.
“ya ampun zhe-” belum sempat Yuna melanjutkan kata-katanya, Zhenya malah
memotongnya dengan mengucapkan
“siapa?” dengan raut wajah yang tidak suka melihat Yuna.
“eh? Ini aku Yuna, sahabat kamu pas kecil” Yuna mengatakannya dengan
tersenyum.
“sorry, gue ngga kenal sama lo” ucap Zhenya dengan meninggalkan Yuna yang
Nampak terkejut. “Masa dia lupa denganku?”
Yuna berlari mengejar Zhenya dan berteriak “Zhenya, dulu kita berada di
desa yang sa-”
“sekali lagi, gue ngga kenal sama lo.” Ucap Zhenya ketus sambil berjalan.
Yuna pun juga tidak mau kalah dan berusaha mengingatkan Zhenya tentang dirinya.
Yuna pun menarik seragam Zhenya.
“tunggu Zhe-“ belum sempat ia memanggil Zhenya, ia sudah terjatuh karena
Zhenya mendorongnya dengan keras.
“berhenti ngikutin gue, gue ngga akan pernah kenal sama orang yang dari
kalangan bawah kayak lo!” ucap Zhenya dengan memberikan tatapan tajam kepada
Yuna.
Zhenya meninggalkan Yuna tanpa menolongnya untuk bangun, meninggalkannya begitu saja.
Terlihat Zhenya memasuki toilet dan membasuh mukanya dengan kasar.
“sial.. ngapain dia disini? buat gue malu aja. Pokoknya gue harus cari
cara yang bakalan buat dia diusir dari sini.” Ucap Zhenya sambil memikirkan apa
yang bisa mengusir Yuna dari sekolah ini. Ia pun memikirkan sebuah ide yang
sangat buruk dan menulisnya di grup chat kelas. Sesuatu yang akan menimpa Yuna dengan
sangat buruk..
“ahaha.. dia ngga bakalan betah di sekolah ini” Zhenya tersenyum sinis
dengan membaca isi chat di grup kelas itu.
Yuna berjalan dengan lesuh ke arah kelasnya, ia tidak
percaya bahwa sahabat kecilnya itu berlaku kasar padanya. Yuna memasuki kelas
dengan pandangan bingung pada teman kelasnya. Mengapa mereka melihat Yuna
dengan sinis? Yuna menuju bangku yang kosong untuk ditempati, ia sangat
terkejut melihat bangku tersebut telah di coret-coret dengan kata-kata yang
sangat kasar. siapa yang tega melakukan ini? Tanpa disadari, Yuna terjatuh saat
hendak membersihkan bangkunya. Ada orang yang sengaja membuat ia tersandung.
Mereka semua menertawakan Yuna tanpa ada yang menolongnya. Mereka mengejek fisik Yuna yang lemah dan ada seorang siswi bernama Crystal yang dengan sengaja menyiram Yuna dengan air botol, seketika seragam Yuna dibuat basah olehnya. Disaat itu, Zhenya memasuki kelas. Yuna berharap Zhenya akan menolongnya.. tetapi tidak seperti yang diharapkan Yuna, Zhenya malah melewatinya dengan tidak melihat ke arah Yuna dan duduk di bangkunya. Yuna tidak percaya.. bahwa Zhenya berubah begitu drastis.. ini bukan Zhenya yang dia kenal.
Waktu pun berlalu, setiap hari Yuna terus melewati hari-hari itu seperti
layaknya di neraka. Ia menghadapinya dengan sabar apa yang mereka semua lakukan
kepada Yuna. Jika kalian bertanya mengapa Yuna tidak melaporkannya ke guru? Tak
ada gunanya Yuna melaporkannya, karena ia juga masih tetap mengahadapi
pembullyan itu.
Disaat yang sama,
Zhenya berada di gudang bersama teman-temannya. Ia membolos pelajaran hanya
untuk merokok.
“Hei Zhenya! Emang bener ya.. Yuna itu temen lo pas waktu kecil?” ucap
temen Zhenya yang bernama Arsen
“ya ngga mungkin lah.. Zhenya aja kaya raya, masa dia dulu tinggal di
desa? Iya ngga sih zhee..” ucap Crystal
“kalo Zhenya ga merasa kenal sama dia, berarti Yuna nya aja yang ngaku
ngaku” ucap Kenzo
“diam semua! Kalian mending fokus buat ngebully Yuna sampe keluar dari
nih sekolah. Muak gue liat wajahnya tuh” ucap Zhenya ketus sambil meninggalkan
gudang tersebut. Ia sangat kesal sekali, karena Yuna tidak beranjak keluar dari
sekolah ini. Ia takut bila teman temannya segera mengetahui bahwa Yuna ialah
teman masa kecilnya di desa.
“itu tadi hampir aja buat harga diri gue turun” ucap Zhenya pada dirinya
sendiri.
Saat ia berjalan di koridor sekolah, ia berpapasan dengan Yuna yang
terlihat berantakan. Seragam yang terlihat lusuh dan basah, rambut yang
berantakan bekas digunting paksa. Ia berjalan dengan tatapan yang kosong. Yuna
menghentikan langkah Zhenya, meskipun tatapan Zhenya tidak menunjukkan
kepedulian sedikit pun. Yuna berbicara dengan suara yang lemah namun penuh
dengan keteguhan.
“Zhe.. apa kamu masih ingat gelang ini?” Yuna mengangkat pergelangan
tangannya, menunjukkan gelang yang telah begitu usang dan dipenuhi kenangan
masa kecil mereka.
Zhenya melihat gelang tersebut tanpa ekspresi. Namun dalam hatinya,
beberapa kenangan mulai muncul. Ia mencoba mengabaikannya dan mencoba untuk
melepaskan diri dari pertemuan ini.
“Lupain itu, berhenti buat kenal sama gue dan jangan ganggu gue lagi!”
ucap Zhenya dingin dan hendak meninggalkannya. Yuna merasakan sakit di dadanya bagai
ditusuk oleh seribu duri. Yuna pun menahan lengan Zhenya.
“kenapa kamu ngelakuin ini Zhenya..? KENAPA KAMU PURA-PURA NGGA INGET
SAMA AKU DAN MENYURUH TEMAN-TEMAN KELAS UNTUK MENINDASKU ZHENYA!!?” teriak Yuna
dengan penuh emosi. Zhenya terkejut, bagaimana Yuna bisa tahu kalau ia lah yang
menyuruh teman sekelasnya untuk menindas Yuna?
“g-gue ngga-” belum sempat Zhenya berbicara, Yuna sudah memotongnya
dengan mengatakan “KENAPA? KAMU MALU PUNYA TEMEN DARI GOLONGAN BAWAH KAYAK
AKU!?” dengan posisi tersulut emosi Zhenya dengan tega mengatakan
“YA! GUE MALU BANGET PUNYA TEMEN KAYAK LO. APA COBA YANG DIPIKIRAN
TEMEN-TEMEN KELAS GUE NANTI. HARGA DIRI GUE BERASA TURUN YUN. GUE PINGIN LO
MENJAUH DARI HIDUP GUE.” Ucap Zhenya dengan kasar.
Yuna menangis karena Zhenya mengatakan sesuatu yang sangat kasar padanya.
Seketika itu Zhenya mengingat kenangan lama dimana ia memberi gelang kepada
Yuna agar tidak menangis lagi.
“maaf kalo selama ini aku udah malu-maluin kamu zhe..” ucap Yuna lirih. Dengan
langkah berat, Yuna berjalan pergi meninggalkan Zhenya yang tenggelam dalam
kehampaan dirinya sendiri.
Zhenya melihat Yuna pergi tanpa ekspresi berarti. Perlahan, Zhenya mulai
merasakan sesuatu yang menggerogoti hatinya.
Sepulang sekolah, Zhenya terus memikirkan apa yang ia katakan kepada Yuna tadi begitu kasar. Ia berjalan menuju gerbang sekolah dan melihat ada keramaian. disana ia mendengar orang-orang itu berbicara.
“hei, ada yang kecelakaan loh.. padahal dia udah diteriakin kalo ada
mobil yang melaju kencang”
“kok bisa dia ngga denger sih.. mungkin dia banyak pikiran ya”
“ntahlah.. lebih parahnya lagi mobilnya kabur cuy”
“kasian.. mana cewek lagi yang jadi korban”
Zhenya mencari tahu apa yang sedang terjadi dan mendekatinya. Zhenya
menerobos para kerumunan itu dan betapa terkejutnya bahwa ia melihat Yuna sudah
tersungkur dengan bersimbah darah.
“YUNA!!” ia lalu menghampiri Yuna dengan khawatir, tak peduli teman
temannya yang melihat kejadian itu.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN? CEPET PANGGIL AMBULAN SIALAN!!” Zhenya
mengatakan itu sambil melihat ke arah teman temannya itu dengan dengan tatapan
tajam. Teman- temannya yang melihat itu terkejut dan langsung segera
menghubungi ambulan.
“Yuna.. maafin Zhenya..” lirih Zhenya.
Yuna terbaring lemah di sebuah ruangan yang ada di rumah sakit tersebut.
Suasana itu penuh dengan keheningan, hanya ada suara dengungan mesin-mesin
medis yang memberi irama pada ruangan itu. Zhenya terdiam dengan menyandarkan
tubuhnya pada Kasur yang di tempati Yuna. Ia menggenggam erat tangan Yuna
berharap ia segera sadar.
“Yuna.. cepet bangun Yuna.. tolong maafin perbuatan Zhenya” Zhenya
meracau menyesali perbuatannya selama ini.
Zhenya terhanyut dengan tangisan kecil di atas kasur, Zhenya membasahi
kasur yang ditempati oleh Yuna.
Seketika itu, Yuna membuka matanya dengan perlahan-lahan, dan ia melihat
Zhenya yang meringkuk di tempat tidurnya. Senyum lemah terukir di wajah Yuna,
meskipun masih terlihat lelah.
"Zhe... kamu di sini?" tanya Yuna dengan suara lembutnya. Zhenya
menoleh dan memandang Yuna dengan ekspresi campuran penyesalan dan kelegaan.
"Yuna... maafin Zhenya. Maafin atas semua yang udah Zhenya lakuin.
Zhenya benar-benar menyesal." Ucap Zhenya dengan air mata yang sudah
mengalir di pipinya. Yuna yang melihat itu langsung memegang pipi Zhenya dan
mengusap air matanya.
“Yuna ngga pernah benci sama Zhenya.. ngga akan pernah” ucap Yuna dengan
tersenyum sangat manis.
Bagaimana bisa Zhenya selama ini menyakiti Yuna yang bahkan tidak pernah
membencinya sama sekali. Dasar Zhenya bodoh.
"Aku terlalu terbawa suasana di sekolah ini, Yuna. Aku tidak tahu
kenapa aku bisa berubah seperti ini. Tapi, aku berjanji akan memperbaiki
semuanya. Aku tidak ingin kehilangan teman sejati sepertimu lagi." Ucap Zhenya
menunduk merasa malu.
Yuna memandang Zhenya dengan tatapan penuh makna.
"Zhenya, kita bisa memulai lagi. Teman sejati tidak mudah ditemukan,
dan kita punya kenangan masa kecil yang indah bersama. Ayo, kita jaga
persahabatan kita lagi."
Zhenya mengangguk setuju, dan mereka berdua merangkul erat satu sama
lain. Di dalam hati Zhenya, ia bersumpah untuk mengubah sikapnya dan menjadi
teman yang lebih baik bagi Yuna.
Hari-hari pun
berlalu, Zhenya tengah berjalan di lorong rumah sakit dengan perasaan yang
gembira. Biasanya sepulang sekolah ia selalu membawakan makanan dan bunga tulip
berwarna kuning yang berarti menandakan persahabatan dan akan diberikan kepada
sahabatnya, Yuna. Ia memasuki ruangan sahabat nya dengan sangat gembira.
Tetapi..
Zhenya melihat keluarga Yuna yang menangis dengan histeris. Dokter disana berusaha menenangkan mereka, dan disaat itulah Zhenya melihat Yuna yang tidak sadarkan diri. Zhenya menjatuhkan bunga tulip itu, lalu seorang dokter menghampirinya dengan memberi Zhenya sebuah surat dan juga gelang.
Untuk sahabatku, Zhenya
Aku sangat menyesal karena tidak bisa memberitahumu sebelumnya. Aku menderita kanker otak dan dokter mengatakan bahwa kondisiku semakin memburuk karena kecelakaan itu. Aku tidak ingin membuatmu khawatir, tapi aku merasa kau berhak tahu.
Aku bahkan tidak tahu berapa lama
aku bisa bertahan. Mungkin kamu membaca surat ini disaat aku telah tiada.
Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk gelang ini yang selalu mengingatkanku akan persahabatan kita.
Jangan merasa bersalah atau menangisi kepergianku. Aku ingin kau tetap tegar dan melanjutkan hidupmu dengan baik. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi di tempat yang lebih baik.
Maafkan aku Zhenya, karena meninggalkanmu begitu saja. Aku percaya kau akan tetap menjadi teman yang baik dan memberikan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarmu.
Tetaplah tersenyum, Zhenya. Sampai jumpa.
Dengan cinta,
Yuna
Komentar
Posting Komentar