Bunga Mawar Adik Ku
Karya : Nur Indah Fitria
Suatu hari,
adik saya mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di
kebun belakang rumah. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas,
disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh kembang. Dipilihnya
pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup sinar matahari.Ia
berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna.
Disiraminya
bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun, dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika
ada rumput yang menganggu, segera dicabutnya agar terhindar dari kekurangan
makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga mawar tersebut.
Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Adik
ku pun senang dan dipamerkan lah kepada orang rumah, kerja kerasnya mulai membuahkan
hasil. Bunga mawar itu dipandang dengan penuh kegembiraan. Dia tampak heran,
sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia
menanyakan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga
mawar yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan menganggu keindahan mawar-mawar
miliknya.
"Mengapa
dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam? Tentu hal ini
akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja
tanganku terluka. Selalu saja ada ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah
pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah
karena duri-duri penganggu ini," Fikir adik ku.
2 minggu
kemudian, adik ku ini enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak
peduli. Mawar itu tak pernah disirami lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya
rumput-rumput yang menganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dulu mulai
merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun
mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya, sebelum berkembang dengan sempurna, bunga
itu pun layu dan mati.
Komentar
Posting Komentar